Di sebuah seminar yang saya ikuti pada tanggal 1 Mei kemarin, di akhir acara ada sedikit waktu acara ngobrol dengan panitia, oleh Mas panitia ditanya apa pendapatnya tentang seminar itu, saya bilang nie masih dengan seminar2 lain yang katanya mau dimulai jam 08.00 (di pamflet), namun nyatanya dimulai telat yaitu jam 09.12.. Mas panitia jawabnya simple banget, “orang Indonesia“.
Btw, jawaban yang simple nan cerdas ini tidak hanya saya dengar sekali, setiap bikin janji mau ngerjain tugas kuliah, mau latihan aerobik yang testnya besok, mau ngerjain laporang praktikum, ataupun janji ketemu buat main game bareng, kemudian terlambat, kata – kata simple nan cerdas itu yang keluar.
Kenapa ya seakan-akan keterlambatannya itu karena kita orang Indonesia, kenapa gak berani bilang saya orang Islam atau yang lain, apa setiap orang yang memberi jawaban yang simple nan cerdas itu lupa, setiap orang memiliki status dalam masyarakat tidak hanya satu macam status saja (CMIIW miaww… miaww), dalam hal ini status sebagai orang Indonesia, status sebagai pemeluk agama tertentu de el el, de es be ge. (keluar deh pelajaran Sosiologi na). Sehingga keterlambatannya bisa menimbulkan anggapan orang yang biasa terlambat tidak hanya orang dengan atribut kewarganegaraan yang sama, melainkann dengan atribut agama yang sama.
NB : bagi yang sudah siap2 tersinggung penyebutan kata saya orang Islam di atas, saya juga beragama Islam, hal ini bisa di buktikan dengan KTP, mumpung KTP Indonesia masih tercantum agama :….

Load 36 queries in 0.249 second(s).